CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Selasa, 13 Mei 2014

Dalam Diam

"Ada apa dengan keadaan num, kenapa kok sekarang terasa berat ya num ? " keluh Riana

"Berat ya na? Tarik napas yang panjang na" jawab Ranum kelu

"Begini ya rasanya mencintai seseorang yang sudah lelah dengan perasaannya sendiri, aku ga pernah nyangka num, 5 tahun perjalanan cinta ini, harus hancur karena rasa lelah Panji ke aku num" ungkap Riana lirih sambil meneteskan airmatanya

Ranum hanya diam membisu, menatap pekat mata sahabatnya tersebut. Riana Viar sahabatnya yang telah menemani Ranum Putri dari SMP hingga bangku Kuliah. Persahabatan yang tidak sebentar membuat Ranum dapat merasakan kepedihan yang dialami Riana. Bagaimana mungkin, hati sahabatnya disakiti oleh tunangannya sendiri. Yaa, Riana Viar, setahun yang lalu bertunangan dengan Sang Pujaan Hatinya bernama Panji Laksono atau sebut saja Panji setelah mengarungi perjalanan kisah asmara selama 5 tahun lamanya semenjak duduk dibangku SMA.

“Kamu yang sabar ya na” ucap Ranum seraya memeluk Riana

Riana yang sudah merasa lelah seraya menangis dipelukan Ranum. Mengingat kembali semua kenangan manis bersama Panji, orang yang dicintainya selama 5 tahun kebelakang, dan masih mencintainya hingga saat ini. Semua hal, ya semua hal, dari mulai jalanan yang biasa dilewati Riana dan Panji, warung makan pinggir jalan yang biasa disinggahi Riana dan Panji hingga lagu yang mengiringi kisah cinta mereka masih terngiang dipikiran Riana.

“Ini sudah hampir 8 bulan loh na, kamu masih kepikiran?” tanya Ranum

Sesaat kemudian Riana melepas pelukannya di pundak Ranum, dan mengusap airmatanya sambil terisak.

“Masih num, masih, malah tambah sakit, disini num, disini” jawab Riana sambil menunjuk Dadanya

“Na, semakin dirasa semakin sakit, ya udah ikhlasin.. Mungkin ini memang jawaban dari Tuhan, kalau Panji tidak cukup baik untuk kamu na, tenang ya na tenang, biarin rasanya mengalir na,biarin na”

“tapi num..” ucap Riana sambil terisak lagi

.........................................................................................................................

Dan untuk kesekian kalinya, Ranum memeluk tubuh sahabatnya itu. Dipeluknya dengan erat, berharap agar rasa sakit dalam hati Riana dapat berkurang. Tapi nihil, tangisan Riana semakin keras, mengeluarkan semua rasa lelah yang dirasakan Riana. Entah kesedihan macam apa lagi yang bisa digambarkan Riana, saat hatinya tercabik-cabik. Tepat 4 bulan setelah hari pertunangannya dengan Panji dilaksanakan, tiba-tiba Panji memutuskan untuk mengakhiri semuanya. 

Semua susunan cinta yang sudah Riana sulam menjadi Lukisan masa depan yang diinginkan Riana bersama Panji. Harapan itu hancur seketika. Seperti Napas yang tertahan dalam keluh berkepanjangan. Seperti ruangan yang tiada berudara. Hanya hancur yang dirasa Riana. 

Hingga 8 bulan berlalu sejak Panji memutuskan mengakhiri semuanya, memori kebersamaan mereka begitu pekat mengiringi langkah Riana. Riana meminta penjelasan, namun Panji hanya mengatakan ‘MAAF’. Hanya itu yang keluar dari bibir Panji.Segala cara telah ditempuh Riana untuk meminta penjelasan Panji mengakhiri semua. Namun semua nihil. Panji masih terus berdiam tanpa kata.

Bisa dibilang, Panji cukup Gentleman dengan mendatangi orangtua Riana dan meminta mengakhiri semua dengan baik-baik. Namun, hati orangtua mana yang tidak sakit mengetahui anaknya dipermainkan sekejam itu. Tanpa alasan tanpa penjelasan semua diakhiri begitu saja.

Kini tepat setahun. Setahun setelah Panji menghancurkan hati Riana dalam diam. Dan semua masih sama. Hanya diam.

........................................................................................................................

“Na, pulang yuk, sholat, berdoa minta ketenangan sama Allah” bujuk Ranum

“iya num” jawab Riana lirih

Pandangan Riana masih kosong. Mengingat semua lembaran Puisi yang selalu ditulis Panji untuk dirinya. Karangan bunga yang tiap tahun tidak pernah absen di saat ulang tahun Riana dan ucapan selamat tidur yang selalu dinyanyikan Panji ketika malam menghampiri.
Semua itu masih membekas diingatan Riana. Dan sungguh sulit untuk dihilangkan begitu saja.

........................................................................................................................

“yuk na pulang yuk” ajakan Ranum membuyarkan lamunan Riana

“iya num” ucap Riana pelan

Riana dan Ranum  kemudian berjalan pulang menuju arah rumahnya masing-masing. Hari sudah larut. Senja menguning dan mengantarkan mereka pulang.

Sesampai dirumah, Ranum kemudian mengirimkan text message kepada Riana

[Send Message] : Riana sayang, udah nyampe rumah? J

[Received Message] : Udah num, makasih ya tadi udah ditemenin dikafe, maaf ya udah ngerepotin terus L

[Send Message] : ihh apa sih na, siapa yang ngerepotin, aku sahabat kamu, bakal selalu ada disamping kamu, sampai kapanpun akan support kamu sampai kamu bisa move on :p hehehe

[Received Message] : makasih banyak ya sahabat ku :* yaudah aku istirahat dulu ya num, semoga besok bisa enakan J

[Send Message] : iya na, eh tapi jangan lupa sholat dulu ya J

[Received Message] : iya Ranum Sahabatku sayang, makasih ya udah diingetin

Ranum lalu tersenyum lalu seakan kelu menjalari hatinya. Seakan-akan mampu merasakan sakit yang dialami sahabatnya. Entahlah.. Ranum hanya terdiam membisu selama sejam menatap langit-langit kamarnya.

“Ranum udah tidur belum sayang” suara seorang wanita mengagetkan Ranum dari lamunannya

“belum mah, kenapa?” jawab Ranum

“itu ada yang datang” jawab Mama Ranum

“Loohhh..” ucap Ranum heran

Kemudian Ranum bergegas bangkit dari tempat tidurnya dan membuka pintu kamarnya. Dilihatnya Mama nya berdiri tepat dimuka pintu kamara Ranum.

“Siapa sih ma? Ini kan udah malem, udah jam 9 malam” tanya Ranum heran

“udah liat aja dulu” jawab Mama Ranum sambil berlalu

Dari balik jendela ruang tamu yang menembus ke beranda, sesosok Pria duduk membelakangi jendela ruang tamu. Sesaat kemudian Ranum membelalakan matanya. Degup Jantungnya berdetak lebih kencang, ada rasa gugup disekujur kaki Ranum. 
Entahlah.. bibir Ranum kemudian kelu seraya berjalan lirih menenemui Pria tersebut diberanda rumah Ranum.

“hai Ranum, apakabar?” sapa Pria tersebut

Ranum hanya terdiam, lalu terduduk sambil membisu

“kamu mau apa lagi?” tanya Ranum kepada Pria tersebut

“aku mau kamu, aku sayang sama kamu, rasa aku ga pernah berubah semenjak melihat kamu pertama kali” jawab Pria tersebut

Ranum lalu membuang tatapannya dari Pria tersebut

“Kamu gila” bentak Ranum

“iya aku gila karna kamu, kamu Ranum alasan aku mendiam selama ini” suara Pria 
tersebut terdengar lirih hampir meneteskan airmata

“tapi bukan seperti ini caranya” ucap Ranum seraya menatap lagi wajah Pria tersebut dalam-dalam

“Rasa aku masih sama sejak 6 tahun yang lalu, semua puisi itu buat kamu semua  num, rangkaian bunga mawar merah kesukaan kamu dan nyanyian selamat tidur yang aku ciptakan, semua cinta ini seharusnya buat kamu seharusnya ya Ranum” sura Pria tersebut semakin parau

“kamu gila Panji !!” hardik Ranum sambil membelalakan matanya ke Panji

Yah Pria tersebut adalah Panji. Pria yang sama yang bertunangan dengan sahabatnya sendiri, Riana. Pria yang ternyata mencintai Ranum dari SMA, Pria yang sama yang menjalin cinta selama 5 tahun dengan Riana. 

Selama ini, Ranum tahu alasan Panji memutuskan pertunangannya dengan Riana. 
Ranum tahu kenapa Panji hanya terdiam ketika Riana meminta penjelasan ke Panji. Yah, Pria yang membuat Riana menangis hampir setahun lamanya, Pria yang mengharapkan kebersamaan dengan Ranum.

Tapi Ranum hanya bisa menjauh dari Panji, walau dalam hati Ranum juga mencintai Panji sejak 6 tahun yang lalu. Tapi setelah mengetahui sahabatnya sendiri, Riana - juga mencintai Panji, teramat mencintai Panji.Riana memilih mengalah.

Dengan sukacitanya Riana menceritakan perasaannya ke Ranum. Menjadikan Ranum 
tempat curahan hatinya terhadap Panji. Saat itu masih SMA, Ranum hanya terdiam. Entahlah.. pemikiran anak SMA. Ranum sangan menyayangi Riana, karena selama ini orangtua Riana yang telah menjadi orangtua pelengkap untuknya setelah Ayah Ranum menghadap yang Maha Kuasa saat Ranum masih berada dibangku SMP. Mungkin,menurut Ranum dengannya mengalah pada Riana dia bisa membuat Riana bahagia dan sedikit membalas kebaikan orangtua Riana dengan menjaga perasaan Riana. 

Entah bagaimana awalnya sehingga Ranum memutuskan untuk mencomblangkan Panji dengan Riana. Pada saat itu Panji bingung, disatu sisi dia menyayangi Ranum, tapi Ranum memohon untuk menjalin hubungan dengan Riana karena Riana sahabat Ranum dan karena Riana mencintai Panji lebih darinya. Panji hanya mengiyakan saja. Entah karena bingung pada saat itu atau memang Panji juga mulai menyukai Riana.

Namun, namanya perasaan, bertahun-tahun ditutupi berontak juga. Panji tidak dapat menahan rasanya lagi untuk Ranum. Akhirnya Panji memutuskan untuk mengakhiri pertunangannya dengan Riana. Pada saat itu Panji berpikir, dengan adanya pertunangan, dirinya dapat melupakan Ranum. Tapi semakin dilupakan, rasa itu semakin nyata. Dan hari ini untuk kesekian kalinya Panji datang menyapa Ranum. Masih berharap Ranum mau jujur akan perasaannya juga.

“Maaf Panji, aku udah ga ada rasa apa-apa sama kamu” ucap Ranum kelu

“Ga mungkin num, kamu masih sayang sama aku”
Ranum kemudian beranjak dari tempat duduknya dan menuju kamarnya, mengambil sesuatu dan menyerahkannya ke Panji.

“ini ji, kalau sempat datang ya” ucap Ranum sambil tersenyum

“ini....” kemudian lidah Panji serasa membeku terhenti berucap sambil menatap dalam-dalam benda ditangannya

Undangan Pernikahan berwarna biru muda dengan hiasan sepasang burung merpati dan Ukiran nama Ranum dan Heru.

“Heru siapa num? Mas Heru?” tanya Panji penasaran sambil berkaca-kaca

“Iya, mas heru” jawab Ranum sambil tersenyum

“tapi.. ga mungkin num, sejak kapan?” tanya Panji heran

“sudahlah ji, aku sayang sama mas heru, pernikahan kita 3 minggu lagi, kalau bisa kamu datang ya, Riana pasti senang bisa ketemu kamu lagi” ucap Riana

“tapi num.. mas heru kakanya Riana kan, mas heru num? Mas heru kakanya Riana num?” tanya Panji tak percaya

“Panji, maaf ya ini udah malam, besok aku harus kekampus lagi, kamu pulang aja ya”

Seakan nyawa Panji menghilang perlahan, langkah gontai meninggalkan beranda rumah Ranum, berlalu membawa semua semangat Panji. Ranum hanya menatap lekat kepergian Panji, lalu ada setitik, dua titik airmata yang mengalir dalam diamnya Ranum.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar