CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Selasa, 20 Mei 2014

Awan mendung dikala Senja

Sudah ku bilangkan, jangan menari-nari dikala hujan hampir datang, kau sebut itu mendung, kukatakan itu hanya angin yang berhembus.. 


Sungguh melelahkan ya rasanya, menangisi air hujan yang jatuh membasahi bumi.. percuma, buat apalagi, toh sudah jatuh.. 


Semakin malam, semakin pekat, dan semakin meyakinkan, setiap langkah yang kita-ya kita semua-makhluk hidup di bumi ini-setiap langkah yang kita semua-makhluk hidup dimuka bumi ini-langkah yang kita jalani, atau kita sebut saja ehm- entahlah-hanya kekakuan mungkin yang kita rasakan. 


Mau berharap senja datang kembali, toh sudah lewat tengah malam, buat apa disesali.. bersembunyi dibalik ketakutan? Tidak ada gunanya. 


Bukankah Tuhan sudah sangat adil menyisipkan (sedikit) keberanian dipermukaan telapak tangan kita, yang kita tidak sadari karena terlalu sering menutup wajah kita dengan telapak tangan itu? 


Orang-orang akan mengira kita gila ya, atau lebih tepatnya idiot, hehe ga masalah lah, selama kita masih melihat senja esok hari, walaupun hari ini senja di tutupi awan mendung.. 


Kita masih membisu, hanya tetap tinggal menatap kosong langit biru ditengah terpaan angin kemarau, 


Kau selalu bertanya kepadaku, kapan musim semi itu datang, aku selalu meyakinkanmu bahwa “kau selalu menawan, mampu menahan banyak hati yang beterbangan tak tentu arah”, lalu kau memanggilku idiot, iya idiot, sama seperti mereka diluar sana, 


“Hey, bukankah kita sama-sama tahu rasanya hati yang sakit?” keluhku pelan. 


Dan ketika awan mendung mulai datang lagi menghampiri dikala senja, aku selalu meyakinkanmu, “tidak apa-apa, kau akan baik-baik saja, ini hanya masalah waktu, biarkan anginnya berhembus, membawa segala keluh kesahmu melintasi samudera, syukur-syukur bisa tenggelam didasar samudera kan,dan kau tidak perlu merisaukannya lagi” dan lagi aku berkata sambil menghela napas panjang, “ ini hanya masalah waktu, sampai kau tidak perlu merasa perih lagi disitu” kataku sambil menunjuk tepat dihatimu. 


*semoga ini, hanya untaian kata-kata tidak berarti yang mungkin-kau-bisa-memahaminya, bisa membuatmu kembali tersenyum, walaupun rasanya sungguh melelahkan yah, kan sudah kukatakan ini hanya masalah waktu, HANYA-MASALAH-WAKTU”


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar